Cerita Seks

 IDNTaruhan Agen dan Bandar Judi Togel & Poker Online Indonesia Terpercaya
Cerita Sex Dewasa | Kisah Kasmaran Ketika Di Malaysia

Cerita Sex Dewasa | Kisah Kasmaran Ketika Di Malaysia

Setelah transit beberapa menit sekaligus cap pasport tanda masuk ke negara jiran itu, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Sultan Ismail (Senai Air Port) Johor Bahru. Selesai mengemasi barang-barang bawaan kami dr pihak kastam (bea cukai) Malaysia, ternyata kami sdh dijemput oleh pihak Mega FAM Malaysia, travel agent di Malaysia yang ditunjuk khusus untuk melayani kami selama mengikuti kegiatan tersebut, dgn menggunakan sebuah mobil fan “Regio”. Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Di Kota asalku, selain aku dikenal sebagai seorang fotografer terkenal berusia 33 thn, aku juga merupakan salah seorang pengamat masalah pariwisata dan telah mengunjungi beberapa tempat wisata di negara Asia Tenggara. Dlm rombongan kami yang berjumlah 6 orang, hanya aku sendiri yang bukan berasal dr travel agent. Oleh pihak Mega FAM yang menjadi pemandu kami, aku dan rombongan diinapkan di Hotel Eden Garden, sebuah hotel bintang lima yang lokasinya sangat strategis sekali di Johor Bahru, dimana di samping hotel dlm bangunan yang sama, selain merupakan kawasan free duty (bebas pajak), juga ada pelabuhan penyeberangan ke beberapa tempat di Indonesia.
Cerita Sex Dewasa | Kisah Kasmaran Ketika Di Malaysia
Begitu kami sampai di Eden Garden, aku melihat kesibukan masing-masing pemandu yang mendampingi para undangan dr 17 itu negara cukup sibuk mengentry data peserta dan mencocokan namanya pada kamar yang telah disediakan. Sambil menunggu kunci kamar, aku mengeluarkan kretek kesukaanku dan menghisapnya dlm-dlm sambil duduk di loby hotel. “Hai, selamat sore. Boleh saya duduk disini?” saya dikagetkan oleh suara lembut dlm bahasa Inggris. Reflek aku menolehkan kepala ke arah suara tersebut. Aku jadi terkesima melihat seorang cewek bule yang cantik dgn postur tubuh yang sangat ideal dgn rambut pirang sebahu. Dan kulitnya, alamak. . ! Sangat jarang aku ketemu bule dgn kulit mulus nyaris tanpa bercak-bercak seperti kebykan bule-bule lainnya. “Ya, silahkan, ” aku menjawab dgn sedikit tergagap. “Are you from Malaysia. . ” tanya cewek yang aku taksir berusia sekitar 21 thn itu. “No, I’am from Indonesia, ” jawabku. “Bali. . ” ujarnya lagi. “Bukan, aku berasal dr kota ‘P’, ” jawabku seraya menjelaskan letak kota kelahiranku yang terletak di pesisir Barat pulau Sumatera. Lalu ia memperkenalkan dirinya sebagai Kristi, berasal dr negara Swedia. Ia juga menceritakan bahwa ia termasuk salah seorang dr 3 orang warga Swedia yang diundang Menteri Pariwisata, Senin dan Budaya Malaysia untuk mengikuti kegiatan promosi pariwisata di Malaysia itu. Dan akupun memperkenalkan diri, serta juga menceritakan perihal yang sama padanya. Tak lama kemudian pembicaraan terputus ketika pemandu kami yang keturunan Pakistan memberikan kunci kamar 1249 padaku. Beberapa menit kemudian, Kristi kulihat juga menerima kunci kamarnya dr pemandunya yang ternyata berdekatan dgn kamarku, yakni di kamar nomor 1250. “Hai, kamar kita berdekatan, ” katanya, yang aku balas dgn sebuah anggukan dan tak lupa menebar senyum manis padanya. Seluruh peserta yang telah mendapatkan kunci kamar masing-masing, oleh para pemandu dipersilahkan untuk berisitarahat di kamar masing-masing, sambil menjelaskan bahwa hari itu adalah acara bebas, namun besok paginya pukul 07. 30 waktu setempat harus sdh berkumpul di loby hotel untuk mengikuti seminar yang akan dibuka langsung oleh Menteri Pariwisata, Senin dan Budaya Malaysia, di The Puteri Pan Pasific Hotel.
Eden Garden Hotel tempat kami menginap itu, cukup bagus dan berbentuk segi tiga. Di tengah hotel, pada lantai lima terdapat restoran yang menyajikan live music, sehingga para tamu yang menginap di lantai 5 hingga lantai paling atas, dapat menikmati hiburan live music itu dr depan pintu kamar masing-masing. Aku baru saja selesai mandi dan masih menggunakan celana pendek hawai dan baju kaus singlet, ketika tiba-tiba bell di kamarku berbunyi. Ketika ku buka pintu kamar, ternyata Kristi telah berdiri di hadapanku dgn menggunakan baju tidur tipis berwarna hitam, sehingga kontras sekali dgn kulitnya yang putih mulus. “Maaf, mengganggu. Boleh saya masuk. . ” ujarnya memecah kesunyian, karena masih kaget dgn kedatangannya. “Eh, oh. . ya. Silahkan, ” jawabku sedikit terbata, yang dibalasnya dgn sebuah senyuman manis. “Mau minum teh atau kopi? Atau kalau mau yang lain silahkan saja ambil di lemari pendingin itu, ” aku menawarkan minuman, karena kebetulan air yang aku masak usai mandi tadi telah terdengar mendidih. “Kopi juga boleh, tapi jangan pakai cream ya. . , ” kembali ia melemparkan senyumnya yang aduhai itu padaku, dan ia lalu beranjak menuju jendela untuk menikmati pemandangan di luar sana. Tiba-tiba aku mendengar ia terpeleset jatuh dan meringis kesakitan. Dgn reflek, aku coba untuk menolongnya bangkit. Itulah kesalahanku, cangkir yang baru aku isi air panas itu ikut tumpah dan mengenai tanganku serta sebagian lagi tumpah ke pahanya. “Aduh, panas sekali, ” katanya sambil meraba pahanya.
Aku jadi salah tingkat dan tak th harus berbuat apa. Aku coba memapahnya serta menidurkannya di ranjangku yang berukuran besar itu. “Aduh, ” rintihnya sambil mengusap-usap bagian paha kanannya. “Maaf, aku tdk sengaja, ” jawabku dan tanpa sadar ikut pula mengusap-usap pahanya. Sejenak ia menatapku, dan akupun balas menatap tepat di bola matanya. Ia tersenyum dan akupun membalas senyumannya itu. Perlahan ia menyingkapkan baju tidurnya untuk melihat pahanya yang tersiram air panas tadi. Kulihat ada rona merah pada paha kanannya yang putih mulus itu. “Ah, tdk apa-apa kok. Justru yang terasa sakit itu disini akibat terjatuh tadi. Boleh bantu aku memijitnya. . ” katanya yang membuat aku jadi tersentak kaget. Namun entah kenapa, aku menurut saja dan dgn sedikit ragu mulai meraba bagian pahanya yang terkilir itu. Dgn sedikit gemetar, aku mulai memijit pahanya yang terbentur karena kaki kursi tadi. Tiba-tiba saja, ku rasakan hawa panas menjalari tanganku, dan terus ke seluruh tubuhku. Pahanya kurasakan begitu lembut, dan rasanya tanganku keenakan memijitnya. “Oh, enak sekali. Terus Sandy, rasanya ngilunya berangsur hilang, ” rintihnya. “Sebentar lagi juga hilang sakitnya, ” jawabku dgn gemetar menahan gejolak nafsuku yang mulai memuncak ke ubun-ubun. “Kamu pintar juga memijit ya, kebetulan badanku capek benar karena terbang cukup lama dr swedia tadi. Boleh aku minta pijit tubuhku?” katanya yang membuatku sedikit terkejut.
Namun karena apa yang aku inginkan untuk menyentuh seluruh tubuhnya terbuka, tanpa menunggu lama aku menganggukkan kepala tanda setuju. Dan Kristi, tanpa minta persetujuanku lebih dahulu, langsung saja mencopot pakaian tidurnya yang tipis itu, dan kemudian telungkup di tempat tidur. “Sandy, supaya kerja kamu tdk terhalang, kamu buka saja kaitan BH ku, ” ujarnya, aku langsung saja membuka kaitan BHnya. Akupun mulai memijit bagian-bagian tertentu di tubuhnya sehingga membuat tubuh Kristi terasa sedikit mulai segar. Apalagi, selama ini aku juga sdh pernah belajar memijit dr kakekku yang seorang ahli pijit di kampungku. “Oh, Sandy. Kamu pintar sekali memijit. Aku ingin seluruh tubuhku dipijit sama kamu, ” katanya. “Apapun yang kamu minta malam ini, akan aku berikan, ” jawabku menyenangkan hatinya. “Betul, Sandy?” ia membalikkan badannya dan duduk di sampingku dan menatap wajahku. “Sure. . !” jawabku lagi. “Oh, kamu memang baik sekali, ” dan tanpa kusangka sedikitpun, ternyata bibirnya yang ranum dan merah merekah itu telah mendarat saja di bibirku. Akupun tdk menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuluman bibir dan permainan lidahnya aku balas dgn hangat. Lidahku maupun lidahnya saling kait mengait di dlm rongga mulut kami yang sdh saling beradu. Ia semakin erat memelukku, sementara tanganku mulai nakal dan coba mencari tonjolan di dadannya yang mulus itu. Uh, kamu nakal Sandy, ” rengek Kristi dan merebahkan dirinya ke ranjang namun tdk melepaskan pelukannya pada diriku, sehingga otomatis tubuhku menindih tubuh mulusnya. Aku terpana melihat pemandangan yang begitu indah, terutama menyaksikan tonjolan di dadanya yang berukuran 36B dgn puting warna pink yang menjulang. Dgn tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, aku mainkan puting susunya dgn lidahku, sehingga membuat Kristi merintih merasakan nikmat yang tiada tara.
Aku jadi semakin ingin memberikan kenikmatan yang tiada tara kepadanya. Lidahku terus merambat turun, dan sebentar bermain-main di pusarnya. Kemudian turun lagi ke bawah, dan terus menjilati celana dlmnya yang juga berwarna hitam namun sdh mulai dibanjiri cairan yang cukup kental. Secara perlahan-lahan, aku buka dan pelorotkan CD-nya hingga ia menjadi polos dan telanjang bulat. Disekitar lubang vaginanya, aku lihat bulu-bulu halus berwarna pirang namun tercukur rapi. Dgn rakus, aku lalu menjilati sekitar liang vaginanya serta mempermainkan clitorisnya dgn lidahku. Aku melihat Kristi semakin menggelinjang dan merintih merasakan rasa nikmat yang tiada tara. Aku terus kosentrasi mempermainkan sekitar lubang vaginana, dan sekali-sekali tanganku menyambar dua puncak gunung yang menjulang tinggi, seakan-akan menantang diriku untuk melumatnya. Dan tiba-tiba, aku merasakan tubuh Kristi menegang dan menjepit kuat kepalaku dgn kakinya. “Oh, Sandy. . Aku mau ke. . luar. . !” rintihnya. Dan aku semakin menggebu-gebu untuk terus menjilati sekitar rongga vaginanya yang sdh mulai melebar, sehingga akhirnya kurasakan byk cairan berwarna putih keluar dr lubang vaginanya yang terasa panas dgn aromanya yang khas membanjiri mulutku. Aku hisap seluruh cairan yang keluar tersebut dan menelannya dgn nikmat. “Sandy, kamu benar-benar hebat. Aku merasa puas sekali, ” Kristi langsung duduk dan mencium bibirku dgn mesra. Aku membalas ciuman itu dgn mesra. Dan Kristi tampaknya mulai terangsang lagi, dan kembali merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Dan tanpa ku duga sama sekali, ia langsung menarik kaos singlet yang kupakai ke atas hingga lepas, dan setelah itu berusaha melorotkan celana hawai dan kemudian CD yang kupakai. Tanpa membuang waktu lagi, aku kembali menggumul Kristi dan memainkan lidahku pada tempat-tempat sensitif yang dimilikinya. Sambil mengerang mengerang kenikmatan, Kristi mencoba mencari rudalku dgn ukuran 16, 5 Cm dgn diamater 3 cm yang sejak tadi sdh mengeras itu, dan mengarahkannya ke lubang vaginanya yang sdh siap tembak. “Ayo Sandy, masukkan. Aku sdh tdk tahan lagi, ” ujarnya lemah. Dan setelah kepala rudal milikku tepat berada di lubang vaginanya, secara perlahan aku hentakkan untuk bisa menembus lobang yang cukup sempit itu. Sedikit-demi sedikit, rudalku berhasil menembus lubang kenikmatan milik Kristi, hingga akhirnya tembus sampai ke dasarnya. “Oh, nikmat sekali Sandy, ” rintih Kristi begitu punyaku menyentuh dasar vaginanya. “Iya, aku juga merasakan kenikmatan yang tiada duanya sayang. . , ? jawabku.

Kristi terlihat semakin memperkencang goyang pinggulnya, dan aku mengimbanginya dgn mempercepat pula kocokan rudalku keluar masuk lubang vaginanya. Setelah rudalku keluar masuk sekitar 25 menit lamanya, aku melihat Kristi sdh hampir mencapai orgasmenya yang kedua. “Sandy, aku mau keluar lagi, ” erangnya. “Tahan sebentar sayang, saya juga sdh mau sampai, ” jawabku. “Oh, aku sdh tdk tahan lagi, ” ia kembali mengerang. “Iya, kita sama-sama saja ya. Aku keluarkan di dlm atau di luar?” tanyaku. “Di dlm saja, biar aku bisa menikmati rasanya semburan spermamu, ” katanya. Akhirnya dlm suatu tempo permainan yang sdh mencapai puncaknya, kami sama-sama terhempas ke ranjang setelah berbarengan mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara. Kami kemudian sama-sama mandi, dan di kamar mandi kembali permainan kenikmatan tadi kami ulangi, sebelum akhirnya ia mohon diri kembali ke kamarnya, setelah jam menunjukkan pukul 01. 45 waktu Malaysia.
 Menikmati Keperkasaan Genjotan Penis Guru Bahasa Inggrisku Dirumahnya

Menikmati Keperkasaan Genjotan Penis Guru Bahasa Inggrisku Dirumahnya

Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.
Menikmati Keperkasaan Genjotan Penis Guru Bahasa Inggrisku Dirumahnya
Menikmati Keperkasaan Genjotan Penis Guru Bahasa Inggrisku Dirumahnya

Cerita Dewasa – Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.
Pelajar Mesum – Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.
Ngentot Perawan – Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain, termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.
Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan dia membalas sembari tersenyum.
“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.
Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya, nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.
Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia setuju.
“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!
Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi, “Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain, “Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.
Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain aku.
“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.
Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.
Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.
“Sorry, ya Pak”.
Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Freddy.
Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.
“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.
Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.
Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecil begini. Tunggu, ya, saya pak√É© baju dulu”. Memang tampak Pak Freddy hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.
Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”
Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.
Aku jawab, “Lumayan, Pak”.
Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.
Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.
Sewaktu Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam.
Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.
Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di belakangku, “Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.
Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak, eh, eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.
Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.
Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.
Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.
Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.
Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.
Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.
Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuh. Emm.., Majalah jorok”.
Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya waktu dia ke Eropa”.
Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.
Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.
Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak malu?”, aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak Freddy dengan santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih tetapi kutahan.
Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali. Semakin lama jilatan Pak Freddy semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah”, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh”.
Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy pun naik dan bertanya.
“Enak, Et?”
“Lumayan, Pak”.
Tanpa bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting payudaraku.
Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.
“Boleh saya seperti ini, Et?”.
Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.
Kelihatan Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya, Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan, “Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.
Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,..”. Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya. Semakin lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.
Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras ke atas kasur dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat dan mempercepat kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas.
Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.
Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apa-apa? Maaf, ya”.
Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini”.
Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.
Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.
Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Freddy hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang kan?”.
Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak Freddy menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan penisnya yang perkasa itu.
Setelah semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir. Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang cukup mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.
Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy untuk menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati genjotan Pak Freddy walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan seolah-olah kami berdua sudah pacaran.

Pernah Pak Freddy menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.
Cerita Sex: Istri Bos Jadi Pelampiasan Pengganti Gaji

Cerita Sex: Istri Bos Jadi Pelampiasan Pengganti Gaji


cerita sex perkosaCerita Sex: Istri Bos Jadi Pelampiasan Pengganti Gaji
Awal mula kejadian ini terjadi pada saat aku masih bekerja sebagai penulis di rumahnya. Saya adalah seorang penulis yg bekerja pada seorang agen penulisan, sebutlah bosku adalah Lukman (nama samaran). Bosku Lukman menggunakan salah satu kamar rumahnya untuk dijadikan kantor tempat bawahannya bekerja. Saat ini Lukman hanya memiliki satu orang bawahan, yaitu saya sendiri.
Pekerja Lukman yg lain telah keluar karena perlakuan Lukman yg kurang adil. Lukman sering kali memotong, bahkan tdk membayar pekerjaan bawahannya. Namun Lukman tetap tdk belajar dari pengalamannya, Lukman tetap tdk membayar hasil kerja dari pekerja terakhirnya ini.
Tdk hanya itu, Lukman memiliki sifat yg suka selingkuh. Saya sering kali disuruh menginap di rumahnya untuk menyelesaikan banyak pekerjaan yg sering kali tdk dibayar.-Cerita sex terbaru- Sebenarnya, saya sendiri sdh ingin keluar saat itu. Namun, saat itu aku masih memiliki uang di bosku yg tdk bisa kutinggalkan begitu saja.
Setelah sekian banyaknya pekerjaanku yg tdk dibayar dan semakin lama semakin menumpuk, aku mulai berpikir untuk memanfaatkan keadaan. Istri bosku adalah seorang wanita yg cantik dan seksi, sebutlah namanya Erni. Hampir semua orang yg datang ke rumah Lukman, datang karena istrinya. Namun, sayang Lukman adalah tukang selingkuh.
Cerita dewasa terbaru, Malam-malam selama aku menginap selalu dipenuhi oleh pertengkaran suami istri di tengah malam. Lukman biasanya pergi pada pagi atau siang hari dan pulang tengah malam setiap hari. Setelah pulang, Lukman mulai bertengkar di tengah malam dan mengganggu siapapun yg mendengarnya. Saat malam, istrinya selalu tidur menunggu Lukman pulang tengah malam.
Pada suatu malam, aku sedang menginap di rumah Lukman untuk mengeprint beberapa buku. Jam 10 malam Lukman belum pulang ke rumah. Aku tahu Lukman sedang meniduri selingkuhannya atau sedang dalam perjalanan pulang.
“Ngapain sih selingkuh? Istri sdh cantik seperti Erni disia-siakan seperti itu, sedang hamil pula!” Pikirku sambil menunggu mesin print di depanku.
Pada saat itu aku tersadar dan berpikir
“Benar! Sia-sia sekali istri secantik itu dibiarkan begitu saja! Kukerjai saja dia sebagai ganti upah kerjaku yg tdk Lukman bayar.” Aku mulai memikirkan rencana untuk megerjai istri Lukman, bosku sendiri.
Aku tahu kalau pintu yg memisahkan tempat kerjaku dan rumah utama telah macet dan tdk bisa dikunci.
Aku bisa mengerjai istri Lukman dgn bebas, aku hanya perlu berhati-hati saat melakukannya agar tdk ketahuan. Aku berusaha mendengarkan dari balik pintu suara tidur di rumah utama. Setelah yakin bahwa tak ada suara tanda-tanda aktivitas di dalam rumah utama, aku memberanikan diri untuk membuka pintu.
Pintu itu cukup didorong sedikit agar bisa terbuka karena kuncinya sdh rusak. Aku mendorongnya perlahan agar tdk menimbulkan suara keras. Satu desakan lembut, dan pintu tersebut terbuka. Aku mengintip sedikit memastikan bahwa istri Lukman tertidur pulas.
Matanya tertutup, nafasnya teratur, saatnya bersenang-senang. Aku merangkak dan mendekat perlahan-lahan dgn jantung berdetak keras dan nafas memburu. Rasa takut ketahuan dan terangsang bercampur, sungguh campuran perasaan yg menarik dan menyenangkan.
Setelah dekat, aku memandang tubuh Erni dgn takjub. Kulit putih yg yg tampak sangat halus. Tubuh yg indah dgn wajah yg cantik ini telah membuat banyak pria ingin menidurinya. Perutnya membuncit karena dia sedang hamil lima bulan,
“Kejam sekali Lukman, istri sedang hamil dia malah selingkuh dgn perempuan lain.” kataku dalam hati.
“Well kalau Lukman tdk mau istrinya, sebaiknya untukku saja.” pikirku, lagipula aku selalu penasaran dgn wanita hamil.
Erni tidur dgn posisi membelakangiku dgn kaki terbuka. Baju dasternya yg berwarna biru tua tersingkap hingga memperlihatkan kaki indahnya yg berwarna putih. Celana dalamnya yg berwarna krem terlihat dgn jelas, aku yakin tindakanku ini benar-benar di luar dugaan mereka. Aku menyingkapkan daster Erni untuk melihat tubuhnya lebih banyak lagi.
Terlihatlah seluruh pantat Erni di depan mataku. Pelan-pelan aku mengelusnya dari paha hingga ke pantatnya, agar Erni tdk terbangun. Aku sangat takut Erni tiba-tiba terbangun dan melihat perbuatanku padanya, aku akan berada dalam masalah besar. Aku menciumi pantat Erni dan terkadang menjilatnya sedikit.
Saat aku sedang menikmati pantat Erni, tiba-tiba aku mendengar suara motor mendekat. “Lukman pulang!” pikirku dgn panik. Aku merapikan daster Erni dan segera kembali ke ruangan tempat kerjaku. Mesin prin masih terus mengeprin buku yg seharusnya aku awasi. Setelah menanyakan pekerjaanku, Lukman dan Erni kembali melakukan rutinitasnya bertengkar di tengah malam.
Keesokan paginya Lukman mengizinkan aku untuk pulang sebentar dan tidur beberapa jam. Siangnya aku ditelepon untuk datang lagi ke rumah Lukman dan meneruskan proses mengeprin buku. Tak lama kemudian, Lukman pergi dgn alasan akan pergi ke beberapa penerbit.
“Padahal tak usah berbohong karena baik aku ataupun istri Lukman sdh mengetahui Lukman akan pergi ke tempat selingkuhannya.” pikirku dalam hati. Setelah pertengkaran yg cukup hebat dgn istrinya, pergilah Lukman dari rumah.
Sekali lagi, seperti biasa, Lukman meninggalkan istrinya serumah dgn pria lain. Jam setengah sepuluh malam rumah sdh sepi, hanya suara mesin prin yg sedang bekerja. “Saatnya aku beraksi” pikirku sambil menyiapkan kertas yg banyak di mesin prin. Aku mendorong pintu dan masuk ke kamar tidur Erni.
Erni sedang tidur nyenyak dgn pakaian yg tersingkap hingga mencapai dadanya.
“Wow! Kemarin aku puas menciumi pantatnya, sekarang ke payudaranya ah!” pikirku.
Aku menaikkan dasternya lebih tinggi lagi, hingga seluruh payudaranya terlihat. Aku meremasnya perlahan dan menciuminya.
Kemudian, aku tertarik untuk melihat putting payudaranya. Aku menarik BH Erni ke bawah perlahan-lahan. Aku takut Erni terbangun saat aku sedang melucuti pakaiannya. Ternyata puting Erni sangatlah lucu, mirip dgn puting payudara anak-anak. Puting payudara Erni ukurannya kecil, berwarna coklat gelap, lingkaran sekelilingnyapun tdk besar.
Aku tdk tahan lagi, aku ingin menghisap payudaranya, walaupun aku takut Erni terbangun. Aku membuka mulutku dan bersiap menghisap puting coklat Erni. Mulutku menutup dan puting Erni berada dalam dalam bibirku. Aku berhenti sebentar dan memperhatikan wajah Erni, takut Erni terbangun. Aroma puting Erni sangat wangi, seperti wangi vanilla, kusadari dia sedang hamil dan payudaranya sedikit basah. Kemudian aku menghisapnya perlahan-lahan dan selembut mungkin.
Beberapa lama aku menghisap putting payudara Erni yg wangi dan lezat. Aku mulai lupa diri dan ingin menusukkan kontolku ke memek Erni. Aku kemudian memposisikan tubuhku agar dapat mensetubuhi Erni. Walau aku takut Erni terbangun, aku ingin mencoba terlebih dahulu. Aku menarik celana dalam Erni dari belakang dgn perlahan. Tak lama kemudian aku berhasil melihat belahan pantatnya. Kemudian diikuti dgn lubang pantatnya dan lubang memeknya.
Lubang pantat Erni berwarna coklat gelap, bergerak-gerak mengikuti irama nafas Erni, Kadang lubang tersebut berkedut-kedut beberapa kali, aku tdk tahu mengapa. Kemudian aku mulai memposisikan tubuhku untuk menyetubuhi Erni. Aku menempelkan kepala kontolku ke memek Erni untuk melihat reaksinya. Erni terlihat masih tidur dan belum terbangun sama sekali, tampaknya Erni kalau sdh tertidur sulit untuk bangun.
Aku menjadi semakin berani untuk menyetubuhi Erni. Aku menekan kontolku ke dalam memek Erni lebih dalam dgn perlahan. Aku sempat merasakan sempitnya memek Erni dan panas tubuhnya di sekeliling kontolku. Namun, tiba-tiba Erni melenguh keras dan menutup kakinya hingga kontolku tertarik keluar. Aku kaget setengah mati, kukira Erni akan terbangun dan memergokiku sedang menyetubuhinya. Penampilanku sekarangpun sdh tdk bisa disangkal, dgn kontol tegang keluar dari celana. Pakaian Erni-pun sedang dalam posisi hampir terbuka.
Aku segera merapikan pakaian Erni dan pergi dari kamar tidurnya. Kemudian melanjutkan pekerjaanku mengawasi mesin prin. Tak lama kemudian, Lukman pulang dan menanyakan pekerjaanku. Setelah bertengkar, Lukman dan Erni tidur, meninggalkan aku sendirian di tempat kerjaku.
Aku mulai berpikir untuk mengerjai Erni dgn lebih cepat dan tdk perlahan-lahan. Terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk berhati-hati dan takut ketahuan. Lukman keburu pulang dan resiko ketahuan yg besar menjadi pikiranku selama beraksi.
Kemudian aku mendapat ide untuk menggunakan obat tidur. Aku segera mencari di internet untuk membeli obat tidur. Setelah memesan, obat tidur tersebut datang tiga hari kemudian. Aku menyusun rencana untuk menggunakan obat tidur tersebut pada Erni.
Malamnya Lukman sedang pergi dan Erni sedang menonton televisi di ruang tamu. Kemudian aku segera membuat alasan untuk membuat kopi agar dapat masuk ke rumah utama. Begitu Erni lengah aku memasukkan obat tidur cair ke minumannya dan kedua anaknya yg masih kecil. Aku masuk kembali ke ruang kerjaku. Setelah kutunggun lama suara televisi masih menyala, namun tdk terdengar suara Erni ataupun anak-anaknya.
Aku memberanikan diri untuk masuk dan membuka pintu dgn cara normal. Setelah aku masuk ternyata Erni dan kedua anaknya masih berada di ruang tamu. Erni tertidur di kursi dan anaknya tertidur di lantai masih memegang mainan yg sedang dimainkannya. Aku menggelengkan kepala, tdk percaya bahwa aku akan memperkosa wanita hamil yg sedang tidur.
Aku kemudian menguji apakah Erni sdh sdh benar-benar tertidur atau belum.
“Teh Erni, teh Erni bangun” kataku sambil menepuk dan menggoyangkan tubuhnya.
Erni tdk juga bangun dan masih tertidur pulas. Untuk meyakinkan aku meremas payudaranya perlahan, kemudian aku meremasnya dgn keras untuk melihat reaksinya. Ternyata Erni tdk juga terbangun, nampaknya obat tidur tersebut benar-benar berfungsi dgn baik.
Kemudian aku menyeret tubuh Erni ke kamar tidurnya. Aku tak punya banyak waktu karena Lukman akan segera pulang, dan aku tak ingin dia memergokiku sedang memperkosa istrinya. Aku cepat-cepat membuka bajunya dan bajuku sendiri. Kuciumi seluruh badannya dgn penuh nafsu, karena aku tahu kini apapun yg kuperbuat Erni takkan terbangun.
Kuposisikan tubuh Erni dgn posisi terlentang hingga aku bebas menjamah seluruh tubuhnya. Perutnya yg sedang hamil tampak membusung ke atas. Kemudian aku menghisap putting payudaranya, tdk seperti beberapa hari lalu, malam ini aku menghisapnya dgn keras.
Kuremas payudara Erni yg satu lagi, satu kuremas, satu kuhisap terkadang bergantian. Setelah beberapa lama, kurasakan tanganku basah di payudara Erni, dan hanya ada satu penjelasan, ini air susu Erni. Setelah terpana sebentar, aku mulai menjilati air susunya. Ternyata rasanya cukup enak dan wangi. Aku masih belum puas merasakan air susu Erni dan masih ingin terus meminumnya.
Aku menghisap air susu Erni dari putting payudara, kuremas kemudian setelah susunya keluar aku hisap hingga habis, terus seperti itu. Setelah beberapa saat aku tahu teknik untuk mengeluarkan air susunya tanpa harus meremasnya dgn tangan. Setelah aku merasa enek, enek karena air susu yg seharusnya untuk bayi, lucu sekali.
Karena aku merasa sdh cukup puas dgn payudaranya, aku ingin melakukan hal yg lain. Aku melihat bibir Erni yg indah dan jadi sangat ingin menciumnya. Aku mendekatkan wajah dan mencium bibirnya. Rasa mulut Erni jujur saja rasa mi instan, sepertinya di baru makan mi instan.
Aku mengeluarkan kontolku dan mendekatkannya ke wajah Erni. Setelah menggosokkannya ke bibir Erni, aku menekan kontolku ke dalam mulut Erni. Setelah memasuki mulut Erni aku mulai menggerakkan kontolku keluar masuk. Mulut Erni dipenuhi kontolku dan becek karena liurku. Kemudian Erni bergerak secara reflek berusaha mengeluarkan kontolku dari mulutnya.
“Sayang sekali…” pikirku dalam hati.
Aku mengganti tergetku pada memeknya, yg belum kusentuh dari tadi. Aku membuka kedua kaki Erni hingga posisinya kini mengangkang, siap dimasuki kontolku. Aku tdk ingin melakukannya dgn pelan, aku ingin melakukannya dgn keras dan kasar, toh Erni takkan terbangun kali ini.
Kugosokkan kontolku di bibir lubang memek Erni agar tak meleset saat kumasukkan. Setelah letaknya tepat aku segera bersiap untuk memasukkan kontolku ke memek Erni. Dgn satu hentakan keras, BLESSS aku menusukkan kontolku ke dalam memek Erni sekuat tenaga. Erni tetap diam saja, hanya ekspresi wajahnya yg sedikit mengerut.
Aku mendiamkan sebentar kontolku di dalam memek Erni, mencoba meresapi panas tubuhnya dan gerakan di dalam memeknya. Memek Erni seakan bernapas dgn jepitan yg mengeras dan mengendur di sekeliling kontolku. Kontolku mulai kukeluarkan dan kuhentakkan kembali dgn keras. Aku melakukannya beberapa kali karena setiap kali melakukannya memek Erni berkedut-kedut di bagian dalam.
Setelah melihat jam, ternyata sdh lewat setengah jam sejak aku mulai bermain dgn tubuh Erni. Aku mulai menggenjot badan Erni dgn cepat dan kuat. PLOK PLOK PLOK PLOK suara paha kami saat bertemu karena genjotanku. Sambil terus kugenjot, aku menciumi seluruh permukaan tubuhnya. Lenguhan-lenguhan kecil keluar dari bibirnya yg indah. Payudara dan seluruh dadanya kujilati, kuremas, dan kuhisap dgn rakus. Perutnya yg membusung kupeluk dan kuciumi pula, aku ingin merasakan dgn jelas kalau aku sedang memperkosa wanita hamil dan berjilbab pula.
Sekarang yg membuatku bingung adalah apakah aku harus mengeluarkan maniku di luar atau di dalam. Setelah hampir setengah jam menggenjot tubuh Erni, aku merasakan maniku sdh siap keluar. Pada saat merasakan sdh mencapai puncaknya, aku memutuskan untuk mengeluarkan maniku di dalam memek Erni. Kutekan keras kontolku ke dalam memek Erni agar maniku keluar di tempat paling dalam di tubuh Erni.
CROT CROT CROT maniku akhirnya keluar di dalam memek Erni. Aku dapat merasakan maniku keluar dan membanjiri memek Erni.
“Oh, oh, oh yeah,” kataku tak kuasa menahan nikmat orgasme yg membuat seluruh tubuhku menegang.
Setelah kulepaskan kontolku dari memek Erni, air maniku sedikit menetes dari memeknya.
Aku berpikir,
“Bagaimana dgn bayi di dalam rahimnya ya?” karena aku baru saja memasukkan sperma dalam jumlah besar.
Aku pernah mendengar kalau seorang wanita akan keguguran kalau diperkosa pada saat mengandung. Tapi kemudian aku berpikir lagi,
“Memang aku peduli? Aku rasa tdk! Lebih baik aku teruskan, karena bagaimanapun sdh terlambat menyesal sekarang.”
Setelah tenagaku pulih, aku siap untuk bermain dgn tubuh Erni minimal satu kali lagi. Tubuh Erni kuposisikan agar menungging, karena aku ingin memperkosanya dari belakang. Kunaikkan pantatnya ke atas dan menciumi pantatnya. Pada saat sedang asyik menciumi, aku melibat lubang anusnya. Aku terpana dgn gerakannya yg seakan mengundangku untuk melakukan anal seks padanya. Namun, aku terpaksa harus menolak, karena jika ketahuan ada bekas anal seks, mereka akan curiga.
Kumasukkan sekali lagi kontolku ke dalam memek Erni dari belakang. Setelah posisiku mantap, aku genjot memek Erni dgn cepat dan kuat. Kini tak hanya terdengar suara paha saja yg terdengar. Kini, suaranya terdengar lebih becek karena banyaknya cairan dalam memek Erni.
Setelah puas dgn posisi menungging, kuangkat tubuh Erni hingga dia berada dalam posisi mendudukiku. Aku harus terus menahan tubuh Erni agar tak terjatuh. Posisi duduk membuat ukuran perut Erni yg sedang hamil terlihat dgn jelas. Sambil terus merabai tubuhnya dari belakang, aku terus menggenjot tubuh Erni.
Perut dan payudara Erni bergoncang mengikuti gerakan genjotanku. Remasanku pada payudara Erni semakin keras hingga air susunya memercik ke kasur. Namun, posisi duduk cukup membuat pegal karena aku harus menahan berat tubuh Erni. Aku mengganti posisi agar aku dapat kembali menikmati tubuh Erni dgn nyaman.
Kurebahkan tubuh Erni dgn posisi menyamping dan aku di belakangnya. Kuangkat kaki Erni yg kanan dan menyelipkan kaki kananku di antara kaki Erni. Kemudian, kumasukkan kontolku kembali ke memek Erni yg sdh becek karena cairan dari memeknya.
Kulanjutkan genjotanku pada Erni, sambil menciumi seluruh tubuhnya. Tanganku meremas payudaranya yg indah dgn keras. Puting payudara Erni kupuntir dan kucubit sepuasnya. Setelah beberapa saat aku mulai mencapai puncak kenikmatanku. Aku angkat kaki Erni agar aku dapat menggenjot memeknya dgn kecepatan maksimal.
Dgn posisi berlutut aku menggenjot memek Erni dgn kencang. Kuangkat bagian bawah tubuh Erni agar mani yg kukeluarkan langsung masuk dan tak tumpah kemana-mana. Saat mencapai orgasme aku tak kuasa menahan getaran tubuhku. “Oh! Ah! Oh!” aku melenguh karena kenikmatan orgasme yg menguasai tubuhku.
Setelah kucabut kontolku, aku tetap mengangkat bagian bawah tubuh Erni agar air maniku tdk keluar dari memek Erni. Setelah beberapa saat, aku membersihkan tubuh Erni yg penuh air liurku menggunakan kain lapel. Kubersihkan memek Erni dari air mani yg menetes.
Kurapikan pakaian Erni dan kuposisikan seperti orang yg tidur. Kubaringkan kedua anak Erni di tempat tidurnya. Kemudian aku kembali mengawasi mesin prin yg ternyata kehabisan kertas. Jam setengah satu Lukman pulang ke rumah dan menanyakan pekerjaanku. Perbedaannya malam itu tak ada pertengkaran karena Erni masih tidur dan Lukman tdk menyadari apa yg kulakukan pada istrinya.
Kini dgn berbekal obat bius, setiap aku menginap di rumah Lukman aku selalu memperkosa Erni. Erni dan Lukman tdk pernah menyadarinya atau tdk perduli aku tdk tahu. Pernah beberapa kali aku memperkosa Erni saat Lukman sedang tidur di sampingnya. Tentu saja aku harus keluar sebelum ada masalah yg terjadi yg menyebabkanku masuk penjara.
Karena memperkosa Erni sdh mulai membosankan dan tdk menarik lagi, aku memutuskan keluar dari tempat kerja Lukman. Aku keluar dari tempat kerja Lukman karena aku sdh muak kerja tanpa dibayar oleh Lukman. Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa istri Lukman telah melahirkan.
Saat aku berkunjung ke rumah Lukman, aku melihat bayi yg tadinya berada dalam kandungan Erni. Anak Erni ternyata sangat lucu dan sehat tanpa ada cacat sama sekali. Ternyata pemerkosaan yg kulakukan pada Erni sama sekali tdk berpengaruh pada rahim Erni dan kandungannya.dari air mani yg menetes.

Kurapikan pakaian Erni dan kuposisikan seperti orang yg tidur. Kubaringkan kedua anak Erni di tempat tidurnya. Kemudian aku kembali mengawasi mesin prin yg ternyata kehabisan kertas. Jam setengah satu Lukman pulang ke rumah dan menanyakan pekerjaanku. Perbedaannya malam itu tak ada pertengkaran karena Erni masih tidur dan Lukman tdk menyadari apa yg kulakukan pada istrinya.

Kini dgn berbekal obat bius, setiap aku menginap di rumah Lukman aku selalu memperkosa Erni. Erni dan Lukman tdk pernah menyadarinya atau tdk perduli aku tdk tahu. Pernah beberapa kali aku memperkosa Erni saat Lukman sedang tidur di sampingnya. Tentu saja aku harus keluar sebelum ada masalah yg terjadi yg menyebabkanku masuk penjara.

Karena memperkosa Erni sdh mulai membosankan dan tdk menarik lagi, aku memutuskan keluar dari tempat kerja Lukman. Aku keluar dari tempat kerja Lukman karena aku sdh muak kerja tanpa dibayar oleh Lukman. Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa istri Lukman telah melahirkan.

Saat aku berkunjung ke rumah Lukman, aku melihat bayi yg tadinya berada dalam kandungan Erni. Anak Erni ternyata sangat lucu dan sehat tanpa ada cacat sama sekali. Ternyata pemerkosaan yg kulakukan pada Erni sama sekali tdk berpengaruh pada rahim Erni dan kandungannya.

Nikmatnya Sepongan Mama Pacarku Membuatku Ketagihan




Nikmatnya Sepongan Mama Pacarku Membuatku Ketagihan
Nikmatnya Sepongan Mama Pacarku Membuatku Ketagihan
Cerita Sex Pengalamanku cerita ini terjadi dengan nyokapnya whiena…Waktu itu kira-kira jam 8 malem ku berniat mau kerumahnya whiena soalnya ku janjian mau nganter dia ke acara ultah temennya…
Trus pas ampe dirumahnya ternyata yang buka pintu Ibu Indah, nyokapnya whiena yang juga dosen wali ku… “malam Bu” sapaku. “en nak Rio, masuk..”
Aku pun langsung masuk kedalam rumah, kulihat Ibu Indah begitu seksi dengan menggunakan daster putih yang serba tipis sehingga terlihat tuBuh Ibu Indah yang langsing..”gila ni Ibu udah nikah kok masih seksi banget ya” kataku dalam hati “Whiena nya ada Bu?”
“oh Whiena tadi diajak sama Papanya kerumah neneknya yang lagi sakit, dia titip pesan ga bisa kerumah temennya yang ulang tahun, dia minta maaf sama kamu juga karena ga sempat nelpon soalnya tadi buru-buru sekali..” “jam berapa perginya Bu”
“sekitar satu jam yang lalu…mungkin sekarang masih dalam perjalanan”Rumah neneknya whiena memang lumayan jauh sekitar 3 jam perjalanann dari kotaku.
“oh..kalo gitu saya permisi Bu”
“Jangan dulu ada yang mau Ibu tanya sama kamu tentang Whiena, tapi Ibu bikinin minum dulu ya”
Ibu Indah pun langsung masuk kedapur, sementara hatiku jadi bingung entah apa yang mau ditanyakan oleh Ibu Indah, jangan-jangan di tau soal hubungan ku yang intim bersama whiena, bakal diintrogasi nih pikirku…… GAWAT ……
Ibu Indah keluar dari dapur dengan membawa dua gelas minuman dingin.”silakan diminum Rio”
Aku pun langsung minum sementara hatiku agak tegang karena takut pada Bu Indah yang mungkin akan marah-marah…. dag dig dug detak jantungku terdengar keras …. seakan mau lepas jantung ku ini.
Ibu Indah duduk dikursi pas dihadapan ku dan dasternya agak tersingkap sehingga pahanya yang putih terlihat jelas, jatungku berdenyut makin kencang dan segera menunduk karena tidak enak sama Bu indah.
“Rio kamu serius pacaran sama Whiena?”
Aku agak terkejut karena pikiranku masih melayang entah kemana.”serius Bu, saya siap bertanggung jawab jika terjadi apa-apa sama Whiena” jawabku sambil tetap menunduk.
“kamu kok diajak cerita malah nunduk sih Rio, kan ga enak.””Maaf Bu” kuangkat kepalaku, kini duduk Bu indah agak mengangkang sehingga samar-samar kulihat bagian dalamnya dan ternyata Bu indah tidak pake cd, nafas ku pun agak memburu menahan nafsu namun tidak berani berbuat apa-apa karena yang dihadapanku adalah nyokapnya whiena yang juga dosen wali dikampusku.

“kamu kenapa Rio” tanya Bu indah pura-pura tidak tahu.”tidak Bu, anu….” aduh aku mulai bingung, sementara Bu indah tersenyum memandang ku. Kemudian Bu indah berdiri dan duduk disampingku.Kamu terangsang ya liat paha Ibu, aku pun hanya diam sementara tangan Bu indah mulai memegang pahaku Kemudian Bu indah berbisik, “kamu puasin Ibu ya ini malam, Ibu sudah lama ga pernah disentuh oleh bokapnya whiena, dia terlalu sIbuk sama urusan kantornya”.

“tapi Bu..” srup bibirnya Bu indah langsung melumat bibirku dan tangannya meramas-remas ****** ku, pikiranku sangat kacau, aku masih bingung dan belum percaya kalo ternyata Bu indah memiliki nafsu yangg tinggi. birahiku pun mulai bangkit, aku pun mulai meremas-remas toketnya Bu indah.
“Terus Rio, enak banget..”dan tangan Bu indah mulai membuka celana jeans ku, aku pun membantunya dan kemudian kulepas kaosku sehigga kini tinggal cd yang melekat.

“Rio kita kekamar aja yuk.” Dan kemudian mencium bibirku.Bu indah langsung masuk kekamar dan membuka dasternya, tubuh Bu Indah kini polos. “Wow Ibu cantik banget, putih, seksi, ga kalah sama whiena””ah kamu bisa aja Rio” jawab Bu indah sambil tersenyumTubuh Bu indah memang sangat mulus, kulitnya putih, toketnya yang besar, serta bulu jembutnya dicukur rapi.”Sini dong Rio, kok malah bengong” Ibu Indah duduk di tepi ranjang dan kemudian aku mendekat dan menunduk mencium bibirnya. Tangan Bu indah melepaskan cd ku dan keluarlah kontolku. “gila Rio. Punya kamu besar banget, lebih besar dari punya suamiku.”dia pun mengelus-elus ****** ku, kodorong kepalanya agar segara menghisap kontolku.”Hisap ****** Rio Bu””sabar ya Rio, jangan kuatir yang pasti malam ini kita harus sama-sama puas”Bu indah kemudian berdiri dan menciumku kemudian turun kedadaku, putingku di hisap dan dijilati.Ouh..Bu enak banget Bu, terus Bu. Kemudian Bu indah berjongkok dihadapan ku dan menjilat kontolku seperti menjilat es krim. Kemudian memasuk kan kontolku kemulutnya. Dia pun memompa dengan lihai. Nikmat sekali rasanya, lebih nikmat dari hisapannya whiena..

Terus Bu, aku pun mulai memompa kontolku didalam mulut Bu indah sehingga mulut Bu indah terlihat penuh dan kadang Bu indah seperti mau muntah karena kontolku masuk sampai tenggorokannya..aku mencabutnya dan nampaknya Bu indah sedikit kecewa. “Terus Rio, masukin kontolmu sedalam-dalamnya kemulutku, kontolmu enak Rio. Perkosa mulut Ibu Rio”
Aku pun kembali memasukkan kontolku kedalam mulut Bu indah dan tangan ku memegang kepalanya sehingga gerakannya berirama. Sementara itu tangan Bu indah memegang erat paha ku karena dorongan kontolku semakin keras menghujam mulut Bu indah. “mulut Ibu enak banget isep terus Bu. Isep yang kuat” Sektiar 20 menit ku perkosa mulut Bu indah sampai Bu indah hampir muntah. Aku pun mencabut kontolku. “kuat juga kamu Rio ya udah hampir setengah jam di karoeke belum keluar, kalo bokapnya indah pasti udah keluar trus langsung tidur, dasar egois banget”

Ternyata Bu Indah selama ini jarang mendapat kepuasan dari suaminyaSekarang giliran Ibu yang kamu puasin Rio sekarang kamu tidur.Aku agak bingung apa maunya Bu indah namun aku menurut saja. Dan aku barbaring diatas ranjang kemudian Bu indah jongkok diatas diatas dadaku.” Rio Ibu juga mau perkosa mulut kamu ya”Dia pun mendekatkan vaginanya kemulutku dan mulai memompanya.Aku pun menjulurkan lidah ku, asin, ternyata cairanya Bu indah banyak banget keluarKini tangannya berpegang ke tepi ranjang sehingga agak nungging dan terus memperkosa mulutku bahkan hidung ku, aroma harum dari vaginanya membuat gairah ku samakin meningkat.”Lidah kamu enak banget Rio hidung kamu juga..terus Rio, nikmat” Bu indah terus memompa vaginanya kearah mulutku sehingga terkadang aku kesulitan bernafas.Akhirnya Bu indah berhenti karena terlihat cape sekali.Aku pun membaringkan Bu indah dan mengangkangkan kakinya, ku jilati klitorisnya dan sesekali kugigit pelan-pelan.Ouch…nikmat banget Rio terus Rio, hisap terus vaginaku Rio, terus Rio, vagina itu milik kamu sekarang.

Aku pun menjilatnya nya dan kemudian ku masukkan jari ku kadalam vaginanya dan Bu indah pun menggelinjang keenakanOuch..jari kamu enak banget Rio apalagi ****** kamu.terus Rio.Tak lama kemudian Bu indah menjepit kepalaku dan menjambak rambutku dan aku pun mempercepat permainan fucking finger ku divaginanya..”Shh,uhf…Ibu mau keluar Rio hisap yang kuat Rio vagina Ibu.,ohh……”Akupun menghisap kuat kuat lubang kenikmatan itu dan “cret..Cret..”Cairan nikmat Bu indah menyemprot mulutku dan aku pun menjilatnya sampai bersih.

Gila kamu Rio mulut kamu pintar banget memberikan kenikmatan di vagina Ibu.Aku pun kembali berjongkok di atas kepala Bu indah dan kembali ku entot mulutnya Bu indah..
Bu indah pun menghisap dengan kuat kontolku..aku membalikkan badanku sehingga posisi kami sekarang 69, aku menahan badanku dengan lutut dan terus memompa mulut Bu indah sementara memek Bu indah kembali basah dan aku terus mengelus elusnya.

Serasa nikmat sekali mulut Bu indah, aku pun memompanya semakin beringas dan kemudian Bu indah nampak tersedak kemudian dia melepaskan ****** ku.”besar banget ****** mu Rio kaya mau robek mulut ku..” Aku pun memperbaiki posisiku dan dan kini kami sama sama berbaring..Kulumat bibir bi indah yang nampak merah akibat ku entot tadi dan tanganku memainkan klitorisnya..
“Shh..uhf.. nikmat banget Rio..entot Ibu sekarang Rio..masukin kontolmu ke memek Ibu..cepet Rio Ibu udah ga tahan nih..gatel banget rasanya.”Bi Indah pun kusuruh mengangkang dan mengangkat kakinya kedepan hingga terlipat menyentuh toketnya.. Kini bibir vagina Bu Indah muncul keluar dan menganga seakan berteriak minta dientot. Aku pun mengarahkan kontolku ke vagina Bu indah dan mulai menggesek-gesekannya..

Rio masukin dong..cepet Rio..Ibu udah pengen banget…ayo donk sayang..Ibu Indah pun merengek seperti anak kecil.. Aku pun menancapkan kontolku dengan cepat masuk kedalam vagina Bu indah yang sudah licin mengkilau.
“Ouhhhh…sakit banget Rio..****** kamu gede banget.pelan-pelan dong” “Tapi enak Rio trus Rio pompa terus memek Ibu Rio, entot terus memek Ibu…”Ternyata memek Bu Indah masih sempit dan enak banget kontolku serasa dipilin-pilin. Aku pun memompa terus vagina Bu indah…semakin lama semakin cepat..
“Ouh..terus Rio aku ga tahan nih..Ibu mau keluar..””Terus Rio.entot terus memek Ibu Rio..memek itu punya kamu sekarang Rio..ouh…” Bu indah mulai meracau tidak karuanDan kemudian tubuh Bu Indah mengejang dan kontolku terasa dijepit kuat sekali..”Ouh..Ibu keluar lagi Rio..****** kamuuuuu eeeenaaaaak baaaangeeeeeetsssss,”Aku pun membalikkan badan Bu indah dan ternyata Bu indah langsung mengerti apa mauku dan dia pun langsung menungging dan kini kami dogy style..aku pun memasukkan kontolku kedalam memek Bu indah.. “Ouhh..nikmat banget Rio..”Aku terus memompa memek Bu indah sambil meremas-remas toket Bu Indah yang bergelantungan..
Ouh..ahh..terus Rio, Ibu mau keluar lagi nih. Aku pun mengocok memek Bu Indah dengan cepat sehingga Bu Indah keluar untuk yang ketiga kalinya.. Kamu kuat banget Rio, Ibu bener-bener puas di entot sama kamu..

Sekarang kamu entotin mulut Ibu aja yang soalnya Ibu paling seneng kalo mulut Ibu di entot. Gila ni Ibu ternyata dia seneng banget oral.. 
Aku pun menarik Bu Indah kelantai dan kusuruh jongkok, dan kemudian kumasukkan kontolku kedalam mulut Bu indah pelan pelan sampai amblas semua, ujung kontolku terasa menyentuh tenggorokannya, aku pun menahan kepala Bu indah karena nikmat sekali terasa, ada kenikmatan tersendiri yang muncul ketika kontolku masuk semua kemulutnya Bu Indah. Kemudian Bu Indah memukul pahaku karena kayanya dia mulai sulit bernafas namun aku tetap menahan kepalanya sehingga akhirnya dia dengan paksa menarik kepalanya dan langsung lari kekamar mandi di samping kami dan langsung muntah. Aku pun mengikuti kekamar mandi.
“Gila kamu Rio kontolmu gede banget”. “Sory ya Ibu muntah abis ga tahan kamu jejelin ****** sebesar itu” Ibu Indah pun menyiram muntahnya..
Kini Bu Indah jongkok kembali di kamar mandi dan mengulum kontolku. Aku pun memompanya secara berirama dan tangan Bu indah terus memainkan biji pelirku, air ludah Bu indah menetes keluar melalui sela-sela bibirnya dan aku tidak peduli, aku terus memompa mulut Bu indah yang seksi sampai kontolku masuk semua dan nampaknya Bu Indah sudan mulai terbiasa dengan kontolku sehingga rasanya semakin nikmat, kontolku serasa mau ditelan oleh Bu indah.Aku pun menyalakan shower dan menyiram Bu indah yang terus asyik mengulum kontolku, kini tuBuh Bu indah basah dan terlihat semakin seksi.

Aku pun menaruh kembali shower itu, dan melanjutkan memompa mulut Bu indah.”Hisap Bu aku udah mau keluar nih..” Aku pun memompa mulut Bu indah semakin cepat dan Bu indah sangat menikmatinya… Aku keluar Bu..ouh…. ooouuuuugghhhhhhttttt……….Aku pun memasukkan semua kontolku kedalam mulut Bu indah dan menyemprotkan sperma di tenggorokkannya, kemudian Bu indah menarik kepalanya dan membersihkan sperma dari kontolku,,”sperma kamu enak banget Rio, kental..””dia terus mengulum kontolku yang masih berdiri tegak..””****** kamu masih berdiri Rio..kamu kuat banget,,”Kita mandi dulu yu..ntar lanjutin lagi ya.. Kami pun mandi sama-sama..

Selesai mandi Bu Indah ngajak makan, kami ke ruang makan sambil tetap telanjang..aku pun duduk sambil makan sementara Bu indah tidak makan dia hanya duduk disampingku sambil mengelus-elus ****** ku.
“kok ga makan Bu?” tanyaku..”nggak ah,,udah kenyang tadi minum sperma kamu..”


Aku pun makan sedikit karena birahi ku bangkit kembali.”Ibu kok seneng banget oral seks sih””soalnya kalo oral seks Ibu bisa rasain kontolmu yang enak banget” Kami pun melanjutkan birahi kami di ruang makan dan kemudian pindah keruang tamu dan akhirnya kami kembali kekamar dan bercinta kembali sampai subuh…………. Hubunganku sama Bu Indah sangat hot, bahkan lebih hot daripada sama whiena bahkan kami pernah ngentot di kamar mandi kampus…… tapi ku tetep sayang sama whiena.
Sekarang Bu Indah sudah pindah ke kota “Y”. Karena suaminya pindah tugas. Dan semenjak itu ku juga kehilangan kabarnya whiena.

Kisah Seks - ML Dengan Bu Iis Guru Ku Yang seksi



Teman-teman akrabku waktu SMP hilang semua sewaktu aku masuk SMA. Karena hanya aku saja yang masuk di sekolah negri, teman yang lainnya masuk sekolah swasta. Bukannya sombong, aku termasuk orang yang punya otak lumayan juga. Di dalam komplotanku, aku termasuk anak yang sulit bergaul dengan lingkungan yang tidak sejalan dengan kemauan sendiri. Tapi jangan dikira aku anak yang nakal, justru kebalikannya, tidak suka berkelahi atau membuat keributan. Keras kepala memang, tapi tidak suka memaksakan kehendak.
Ini yang menyebabkan aku dan komplotanku yang sepaham memilih keluar dari kepengurusan organisasi sekolah, dan membuat kegiatan sendiri (mading). Kami menjadi apriori terhadap organisasi sampai sekarang, karena setiap kegiatan organisasi sering dijadikan acara pacaran pengurusnya dan tidak untuk menjalankan program kerja. Dan mading buatan kami selalu ditunggu-tunggu semua siswa, karena menurut mereka sangat menarik dibandingkan dengan yang lainnya. Inilah yang membuatku merasa sendiri di lingkungan yang baru, yang mana mengharuskanku memakai celana panjang (biasanya pakai celana pendek tanpa underwear). Sangat risih.
Tapi ada satu sisi yang harus kusadari, aku harus dapat unjuk diri. Toh anak-anak yang satu SMP dulu masuk sekolah ini juga kehilangan teman-temannya yang diandalkan untuk jadi tukang pukul.

Hari pertama masuk penataran (perlu diingat, saat ini masih masa orde baru) kami diperkenalkan kepada guru-guru PPL yang berjumlah sekitar 9 orang. Ada satu PPL wanita yang menarik, Is namanya. Body-nya biasa saja, tidak pendek tapi tidak dapat dibilang tinggi. Penampilannya anggun. Suaranya aku suka, jernih dan merdu kalau menyanyi. Yang tidak kusuka adalah penampilannya yang lainnya, yaitu terlalu menor.
Hari pertama itu aku langsung dihukum Bu Is (guru PPL), karena melanggar ketertiban sewaktu diskusi. Gila, disuruh berdiri di depan kelas, mana aku tidak pakai celana dalam lagi. Aku harus berdiri di sebelah kursinya, dan secara tidak langsung aku diharuskan melihat pahanya yang mulus itu dengan rok yang kalau dia duduk terangkat sampai sebatas lutut. Apalagi dengan posisiku yang disuruh berdiri, dengan tinggi badan 170 cm akan dapat melihat dengan jelas garis belahan dadanya dari atas sewaktu dia duduk. Ala maak… serba salah rasanya.
Apalagi sewaktu dia mengambil bollpoin-nya yang jatuh, sehabis menunduk dan mau mengambil posisi tegak lagi, kibasan pakaian bagian dada yang memang agak rendah, memperlihatkan dengan jelas buah dadanya di balik BH dengan kain cup yang tipis dan tidak begitu luas. Sehingga banyak area payudaranya yang sempat kulihat. Kencang… mulus… dan transparansi daerah puncaknya yang warnanya terlihat lebih tua dibandingkan kulit dadanya. Adik kecilku menggeliat dan kucoba untuk menahan gejolak, agar tidak bergerak kemana-mana.
“Kamu tetep berdiri di situ. Dan yang lain.., jangan dicontoh teman kalian ini.” kata Bu Is.Teman-teman pada tertawa riuh mendengarnya. Wah… seram juga orang ini. Tidak disangka deh kalau orang secantik dia bisa marah. Dengan mata yang memelototiku, aku merasa menjadi aneh. Tidak seperti biasanya kalau orang dimarahi ketakutkan, aku malah sedikit melamun seolah ingin mendekapnya dengan kencang dan menengadahkan wajahnya untuk melumat bibirnya yang merah dan menikmati matanya yang walaupun melotot karena marah menjadi sangat indah.
Walaupun aku belum pernah merasakan ciuman, tapi aku dapat merasakan nikmatnya seperti yang pernah kulihat di Video porno (Di desa anak-anak memutar BF ramai-ramai kalau salah satu dari mereka yang punya video kebetulan orangtuanya lagi tidak ada. Walaupun desa, yang namanya video waktu itu bukan barang mewah, karena kebanyakan orangtua mereka pernah menjadi TKI dan membeli videonya dari sana).
Mendadak tersadar setelah terasa ada sesuatu yang menyentuh adik kecilku. Aku jadi sangat gugup. Tapi ada perubahan sikap pada Bu Is, jadi lebih lembut dan menyapa dengan manja kepadaku seolah tak percaya.”Kamu bisa mainin gitarya..? Sudah kamu main gitar sambil kita sama-sama nyanyi lagu daerah…” katanya sambil menyorongkan gitar di depanku dan menyenggol adik kecilku.Teman-teman satu kelas pada tertawa riuh. Aku jadi sadar teman-teman tadi mentertawaiku karena batang kemaluanku menyembul dan bergerak liar di balik celana abu-abuku. Aduh.., wajahku terasa panas dan malu. Untung saja gitar itu langsung kusambar dan siap-siap mau memainkan, sekalian untuk menekan batang kemaluanku yang gerakannya semakin liar.
Tetapi pada posisi ini sangat tidak enak untuk main gitar, karena posisi gitar terlalu ke bawah, yang semestinya pada posisi perut untuk main gitar dengan berdiri. Aku ambil keputusan turun dari lantai depan papan tulis yang memang lebih tinggi 20 cm dari lantai bawah bangku. Aku duduk di atas bangku temanku terdepan. Tapi Bu Is lihat tidak yaaa… tadi. Ah semoga tidak melihat. Ahh… EGP! Dan akhirnya kami pun bernyanyi bersama-sama, dan dari sini saya tahu kalau dia suaranya boleh juga.
Sejak peristiwa itu aku jadi sangat akrab dengan Bu Is yang kalau di luar sekolah biasa kupanggil Mbak Is. Aku sering main ke tempat kost-nya yang tidak begitu jauh dari tempatku, dan kebetulan dia kontrak satu rumah dengan teman-teman angkatannya. Tidak ada yang namanya ibu kos di tempatnya, sehingga tempatnya sering jadi tempat main teman-temanku, baik sore maupun malam hari. Dan aku sering ke sana untuk main gitar dengan mas-mas dan mbak-mbak PPL. Apalagi dia yang mau bisa main gitar (dengan alasan biar kalau ingin menyanyi bisa main gitar sendiri) tidak mau diajarikan siapa-siapa selain aku. Padahal aku tidak seberapa mahir.
Tapi aku suka. Dia manja, dan kalau memanggilku dengan panggilan ‘sayang’ kalau sedang di luar sekolahan. Aku tidak berpikir yang macam-macam, toh teman-teman satu kontrakannya juga tidak ada yang berpiikir macam-macam padaku. Dan aku tahu salah satu teman PPL-nya ada yang naksir sama dia, dan dia (temannya yang naksir itu) tidak akan pernah cemburu padaku, walaupun untuk anak SMA dengan tinggi badan 170, aku masih terlihat seperti anak kecil, apalagi aku kalau memanggil Bu Is dengan sebutan ‘mbak’.
Keakraban kami tidak hanya di luar sekolah. Kebetulan dia pegang mata pelajaran Kimia. Salah satu pelajaran yang paling aku tidak suka. Sewaktu aku keluar kelas dan mau ke kamar kecil dan melewati ruang guru, aku dipanggil.”Dy… sini..!” katanya.Wah.., dia pakai blus dengan potongan leher yang pendek lagi, (bajunya banyak yang model gitu kali) dan dibalut jas almamaternya dengan kancing yang terbuka semua, juga masih dengan model rok yang sama.
“Ada apa..?” jawabku.Aku ditarik masuk ke ruang guru. Sepi tidak ada satu orang pun. Aku dibimbingnya berjalan menuju satu meja dan berdiri menempel ke bibir meja. Dia berdiri di belakangku dengan tangan kirinya menopang meja sebelah kiri merapat ke pahaku, dan tangan kanannya bergerak di kanan badanku mengambil lembaran kertas buram.
“Besok aku mau ngadain ulangan. Ini soalnya, kamu baca dan kamu pelajari..!” katanya.Aku terdiam. Posisiku sangat tidak enak, aku ditekan dari belakang, badannya agak miring ke kanan dengan tangan yang terus corat-coret di kertas buram. Pantatku yang tidak seberapa besar menempel ketat di sekitar daerah pusarnya. Tetapi punggungku terasa ada sesuatu yang asing menempel hangat dan empuk (maklum, sebelumnya aku tidak pernah merasakannya).
Setiap dia menerangkan dengan mencorat-coret kertas, badannya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tekanan-tekanan. Membuat punggungku terasa ada tekanan sensasi nikmat yang berputar-putar. Batang kemaluanku langsung bergerak. Edan..! Aku tidak memakai celana dalam. Dia terus menerangkan dengan antusias. Bau parfumnya halus sekali. Aku jadi kelimpungan, dia terus menekan-nekan punggungku dengan dadanya. Kadang-kadang aku juga merasakan pantatnya sering digeser-geser untuk menekan pangkal atas pahanya ke pantatku dengan sedikit menjinjingkan kaki, walau dia pakai sepatu hak tinggi. Hangat sekali rasanya.
Aku berkeringat dan tidak dapat berpikir jernih. Dia terus saja menerangkan. Setiap selesai menerangkan satu bahasan soal, dia memandangku sambil menekan lebih keras badannya ke punggungku, bahkan terasa dia merangkulku dengan satu tangan kirinya yang ditempel dan ditekan keras ke pahaku. Jari-jarinya sedikit menyentuh batang kemaluanku. Ah.., makin lain saja rasanya. Satu sisi aku takut kalau dia tahu ada yang tidak beres dan memalukan pada diriku, karena sangat-sangat jelas batang kemaluanku menyodok kain celanaku hingga membentuk gundukan yang tidak wajar pada pangkal paha.
Bergerak-gerak lagi. Wah aku rasa denyutannya semakin kencang sampai aku tidak dapat mengontrol perasaanku, badanku terasa tidak menginjak lantai. Apalagi bila dia menatapku dengan pertannyaan, “Sudah mengerti..?” dengan sedikit mendenguskan nafasnya ke arah dadaku.Terasa hangat. Dan tangan kiri yang yang menempel ketat di pahaku dengan jari-jari yang kadang seolah-olah mau mengelus tonjolan batangan kemaluanku di balik celana seragam. Ah… aku rasa dia tahu dan mengerti perubahan keadaanku. Aduh aku tidak dapat mengontrol diri lagi, aku sudah tidak dapat merasakan denyutan batang kemaluanku, rasanya tegang sekali dan seolah-olah mau pecah.
Apalagi ketika dengan sedikit disengaja (mungkin), posisi kuku jari tengahnya menempel tepat di tonjolan celana dan pada area kepala batang kemaluanku. Digaruknya pelan dan lembut. Saat itu aku langsung tegang dan seolah-olah ada suatu yang menjalar pada tubuhku, persendian terasa lepas dengan keringat dingin sedikit membasahi punggungku yang panas, juga pangkal pahanya dan pahaku yang semakin terjepit ke bibir meja. Mbak Is terasa mamaksa merangkulku dengan tangan kanan yang tadi memegang pen, dilepas dan mencengkeram tanganku. Dan tangan kirinya langsung saja ditekan dan digesek-gesekkan dengan cepat di tonjolan celanaku. Seolah-olah ada keraguan untuk meremas.
Aku diam dan sedikit mengeluh, dia pun begitu. Terasa ada yang hangat dan basah pada celanaku, perih juga rasanya lubang kepala batang kemaluanku. Mbak Is berjingkat sambil melihat telapak tangannya yang basah. Setengah sadar kutarik nafas dan bergerak menghindar dan berusaha keluar ruang guru dengan tubuh terasa melayang tanpa menoleh memperhatikannya lagi. Tidak tahu apa perasaanku waktu itu.
“Aku keluar dulu. Biar kupanggil Eko untuk lihat soal itu..” kataku.”Dy… kamu bawa saja..! Nanti malam kembalikan di tempatku..!” potongnya.
Aku tidak memperhatikannya, dan mengurungkan niat kembali ke kelas untuk memanggil Eko agar membaca soal itu juga. Aku tidak balik masuk ke dalam ruangan untuk mengambil kertas soal, tetapi langsung ke kamar kecil. Langsung kubuka celana dan menarik batang kemaluan yang masih keras dan berdenyut-denyut dengan berirama. Ada cairan putih kental membasahi kain dalam celanaku dan tembus keluar. Aku langsung berusaha konsentrasi buang air kecil. Rasanya sulit, perih dan panas sekali. Lama aku berusaha mengeluarkannya, dan akhirnya keluar juga.
Aduuhh… periihh…, dan saluran airnya terasa panas sekali. Benar, terasa kebakar. Selesai keluar habis, panasnya tidak hilang. Aku berusaha tenang dengan merendam kepala batang kemaluanku ke dalam gayung berisi air penuh. Masih saja terasa panas, padahal airnya dingin. Kudiamkan saja, toh dengan situasi seperti ini aku tidak enak untuk masuk kelas. Apalagi batang kemaluan ini kalau lagi bangun keras sekali, pasti deh bikin tonjolan keluar. Sebenarnya ukuran punyaku lebih kecil dari punya teman-temanku di kampung, sekitar 14,5 cm dengan lingkar 12 cm saja, bengkok ke kanan lagi. Ini aku tahu karena seringnya aku main dan berenang bersama mereka. Aku pun menunggu sampai semua beres, walau sampai bel istirahat. Tidak apa-apa, sekalian bolos.
Tidak hanya dalam mata pelajaranya saja dia membantu. Pada saat ujian matematika pun, walau dia mengajar di kelas sebelah, selalu dia sempatkan menengokku dan membantu menyelesaikan tugas dengan memberikan jawaban pada selembar tissue. Dan tidak ada yang tahu selain teman sebangku aku. Teman sebangkuku ini sangat akrab denganku. Dengannya pula aku membangun komplotan (Kami sebut komplotan karena selalu oposisi pada organisasi sekolah) bersama seorang anak yang kami tuakan, Avin namanya. Dia tinggal kelas, sebenarnya tidak nakal (nakal menurutku = suka berkelahi). Komplotan kami sebenarnya tidak takut berkelahi, tetapi kalau ada yang ‘jadi’, kami juga tidak takut ‘beli’. Nanti ada ceritanya. Mungkin kalau menurut bahasa anak sekarang ‘cool’.
Dari dia juga, ada rencana mengajak kumpul malam minggu di pantai dengan Mbak Is dan teman-temannya yang lain. Sambil bakar jagung dan nyanyi-nyanyi, PPL semuanya pada ikut. Kami bikin acara api unggun, ngomong ngalor-ngidul, nyanyi-nyanyi dan main gitar. Dan dimana ada aku, di situ Mbak Is selalu ada. Walau disana ada temannya yang naksir dia, sikapnya biasa saja. Dan kami sering berangkulan bertiga dengan Mas Itok (PPL Bhs. Inggris). Mas Itok pun tidak pernah curiga denganku. Dia mengerti kalau Is itu manja, anak bungsu (tidak punya adik dong) dan dia menganggap aku ini adiknya. Tetapi kalau ada apa-apa, Mbak Is pasti merangkulku.
Aku jadi tidak enak juga lama-lama. Padahal tubuhku biasa saja, cenderung kurus. Jika dibandingkan dengan Mas Itok yang walaupun lebih pendek dariku, tetapi dia dapat dikatakan memiliki bentuk tubuh yang atletis. Kulitnya sedikit gelap dibandingkan dengan kulit Mbak Is yang kuning langsat ‘cerah’, kulit orang jawa yang bersih terawat dengan payudara yang walau dari luar kelihatan biasa saja tapi kalau dilihat benar-benar lumayan besar. Mungkin satu genggaman tangan lebih sedikit, kencang lagi. Toh aku pernah secara tidak sengaja juga pernah melihat dan merasakan gesekan-gesekan di punggungku, jadi aku dapat mengira-ngira berapa ukurannya.
Aku tambah tidak mengerti sewaktu Mbak Is tidak mau diajak pulang sama Mas Itok, karena alasan sudah dini hari. Akhirnya ditinggal pulang juga, karena disitu toh ada aku. Dan Mbak Is semakin tidak kumengerti. Dia semakin erat saja memelukku pada posisi berbantal di pahaku dengan wajah dibenamkan dekat selangkangan. Tangannya melingkar di punggungku. Aku takut batang kemaluanku akan bergerak-gerak lagi. Memang sudah dari tadi terasa sudah tegang sekali karena terangsang bergesakan badan terus dengannya. Apalagi sekarang wajahnya dibenamkan ke selangkanganku dengan hembusan nafasnya yang tidak teratur dan hangat.
Sudah tidak bisa dicegah lagi, batang kemaluanku terasa berontak dan langsung menonjol membetuk gundukan hebat di balik celana menekan wajahnya. Kepalang basah dan tidak dapat dicegah lagi. Sudah hilang rasa maluku, dan seopertinya dia yang sengaja demikian. Tapi aku tidak mengerti, aku harus bagaimana. Wajahnya malah seolah-olah digesek-gesekkan dan ditekan ke selangkanganku. Dan pelukannya ke punggung malah semakin kencang saja. Posisiku yang duduk dengan satu kaki bersila dan satunya lagi selonjoran di tanah menyulitkanku untuk bergerak bebas. Ditambah lagi ketidakberanianku untuk.. Ah ngaco.., Avin yang sedari tadi memperhatikanku mendekat mengendap-endap di hadapanku. Kasih kode yang tidak kumengerti.
Mbak Is semakin tidak karuan saja, sekarang dia malah seolah-olah mau menggigit batang kemaluanku yang menyembul menekan celana. Avin masih pada tempatnya dengan tangan dan mulut bergerak-gerak tapi tidak kumengerti maksudnya. Aku sekarang semakin terasa sakit karena Mbak Is telah benar-benar menggigit batang kemaluanku, dan tangannya yang melingkar di punggungku dilepaskan satu untuk memegang tonjolan itu. Aku meringis menahan nikmat, geli, sakit… tidak karuan.
Sekarang tangan yang satunya malah dilepaskan dari pinggang dan kedua-duanya memegang batanganku, lalu berusaha membuka resletingku. Aku semakin gemetaran saja. Begitu celana terbuka batanganku terasa melompat keluar, dan dia langsung saja nyosor mengulumnya. Nafasnya semakin tidak beraturan. Aku merasa kegerahan. Dia langsung merubah posisi jongkok sambil membenamkan wajahnya mengulum habis batangan. Tanganku dibimbingnya menyentuh buah dadanya.
“Dy… pegang ini sayang… remaass… sayaanggg… nggg… ssstt… nikmat sayanggg… ssstt..”Tanganku gemetaran dan langsung kuremas keras-keras. Langsung kutarik ke bawah BH tipisnya, tapi tetap tidak bisa. Hanya sedikit yang menyembul keluar, aku kesulitan menjamahnya. Tangan Mbak Is langsung menyusup ke dadanya sendiri. Ternyata melepas kaitan BH-nya. Aku tidak ngerti kalau kaitan itu ada di depan, dan kalau toh tahu belum tentu aku dapat melepaskan kaitan itu.
Sekarang buah dadanya menggantung bebas dan aku jadi leluasa meremasnya. Rasanya aneh… empuk, padat, hangat… belum pernah aku merasakan sensasi seperti ini. Batang kemaluan disedot-sedot… nikmat, dan aku meremas-remas buah dadanya yang kenyal dan asing rasanya. Seumur-umur belum pernah aku merasakan meremas buah dada wanita. Apalagi dengan batang kemaluanku dihisap-hisap. Avin merayap dan mendekat. Lewat kode-kodenya aku jadi mengerti kalau aku disuruhnya meletakkan tanganku pada pantat Mbak Is yang nungging itu. Kuelus-elus pantat yang tak begitu besar tapi padat itu. Sekonyong-konyong tangan Mbak Is membuka reitsletingnya sendiri.
“Sini sayangg… masukkan sini sayaaangg…”Aku selusupkan tangan kananku masuk ke dalam celananya. Kuraba-raba sampai ke selangkangannya yang paling sempit. Aku tidak menemukan apa yang ingin kucari. Kecuali ada sedikit daging yang membukit dan hangat rasanya. Tangan kiriku yang dari tadi bebas tanpa aktifitas kini kualihkan untuk menarik celananya agar lebih turun ke bawah dan aku jadi lebih bebas bergerak meraba-raba selangkangannya.
Dia semakin liar saja menghisap batang kemaluanku sampai pada pangkal bawah dekat telur puyuh. Dijilatnya penuh nikmat. Dan celananya sudah turun sampai atas lututnya, dan dia berusaha mengangkangkan kakinya, tetapi tidak dapat karena tertahan lingkar pinggang celananya. Tetapi sedikit lumayan, aku dapat menemukan gundukan daging di selangkangan yang sudah basah. Coba kutekan-tekan sedikit, sepertinya bisa cekung ke bawah. Dia semakin mendesis-desis tidak karuan. Avin sudah dekat. Aku diam saja sewaktu tangan Avin mencoba menyusup ke balik celana dalam Mbak Is yang tipis dan berwarna pink itu. Avin mengulurkan telunjuknya dan menyusupkannya, lalu menekannya dan masuk setengah jari.
“Aduhhh… sssaayanggg.. eehhmm… terruusss… sayaangg… nggg… aakkkhh… teerrruuss… sss..” erangannya menjadi-jadi.Aku jadi mengerti kalau lubang itu mungkin yang disebut vagina, lubang kewanitaan yang bisa untuk hubungan seks. Langsung saja kumasukkan satu jariku mengikuti jari Avin yang sudah masuk ke dalam.”Aaauuggghh.. hhh…” Mbak Is tersedak menghisap batangku sewaktu jariku dan jari Avin masuk bersamaan di lubangnya.Jari-jari tangannya mencengkeram keras di batangku dengan kuku-kukunya yang panjang terawat menancap daerah sekitar kemaluanku.
“Aaauu… sakiiit..!” aku menjerit.Mbak Is langsung mau bangun, tapi tanganku yang kiri langsung membenamkan kepalanya lagi untuk menghisap batang kemaluanku. Aku takut nanti Mbak Is tahu kalau Avin yang menusuk kemaluannya dengan jari.”Ssudaahhh… Dy… akuu… nggaaak… kuaattthh.. llhhhheeebb.. bbbbeebbb…”Aku semakin kasar saja bertindak dengan membenamkan wajahnya, dan dia tersedak lagi. Aku merasa batang kemaluanku sampai menyentuh pintu tenggorokannya. Dan dia batuk-batuk, tapi masih saja menghisap batang kemaluanku sambil menangis mengiba-iba nikmat dan tidak jelas apa yang diucapkannya.
Sekonyong-konyong Avin sudah memelorotkan celananya dengan setengah berdiri bertumpu pada lutut, siap mengeluarkan batang kemaluannya sendiri sambil merapatkan satu jari telunjuk pada bibirnya, menyuruh aku untuk diam saja. Kubantu Avin menurunkan CD Mbak Is yang basah membentuk lintangan panjang oleh lendir. Kini aku dapat melihat dengan jelas. Disitu ada bulu-bulu yang tidak begitu lebat bila dibandingkan punyaku dan Avin. Belahan pantatnya begitu sempurna. Padat, kenyal, bersih dan tidak ada perbedaan warna seperti punya teman-teman yang biasa kutahu.
Mbak Is mengerang sewaktu aku berusaha membantu Avin melepas celana panjang dan CD Mbak Is biar berada lepas dari lututnya, sehingga kakinya dapat lebih lebar mengangkang. Avin mencoba menggeser penisnya pelan-pelan ke mulut lubang Mbak Is. Terlihat mengkilat kepala penis Avin oleh lendir Mbak Is yang terkena terpaan cahaya bulan malam itu. Pelan-pelan disodoknya masuk ke dalam.”Bblleebbb sss… sssttt.. niikmaatt… shaayyyaaangg… aauughhh..” erangnya tanpa tahu penis orang lain yang menusuk vaginanya.”Aughh… terrruuusshh… sshhh… sshh… saayyyaaaangg… terusss… shh.. ssshhh… sshaayyangg… shh..”
Kepalanya digoyang-goyang keras ke kiri dan ke kanan tanpa mau melepas batang kemaluanku dengan cengkeraman kuku tangannya yang menghujam panas di selangkanganku.”Aauu..!” jeritku tertahan.Kutarik tangannya dari kemaluanku, tapi tanganku malah dipegangnya dan diarahkan ke dadanya. Kuremas habis payudaranya yang kenyal, kupelintir putingnya yang kecil dan lancip. Daging yang tadi menggelatung bebas kini kuremas dan kupelintir dengan kedua tanganku. Gelengan kepalanya ke kiri dan ke kanan semakin keras, kadang-kadang kepalanya dibentur-benturkan ke selangkanganku.
Nafasnya memburu dengan desisan yang tidak menentu. Punggungnya ditekan lebih ke bawah dan payudaranya hampir menyentuh rumput-rumput tanah. Tanganku jadi tidak hanya memelintir dan meremas payudaranya saja, tetapi juga menahan tubuhnya. Kepalanya sedikit mendongak ke atas dengan rambut yang semakin awut-awutan menutupi wajahnya dan mulutnya menganga lebar merasa kenikmatan yang tidak kumengerti seberapa dahsyat yang Mbak Is dapat dari sodokan penis Avin dengan ukuran yang lebih pendek dari punyaku itu.
Posisi dia ini menyebabkan pantat Mbak Is semakin menungging terangkat ke atas. Bertambah indah, aku kagum melihat bentuknya, walaupun tidak begitu besar tapi didukung perutnya yang kecil, apik, jadi terkesan berbody gitar. Suara-suara cepakan pantat yang beradu dengan pangkal paha seolah tidak dihiraukan oleh Mbak Is. Dia mengerang dan goyangan pinggulnya semakin hebat. Desisan nafasnya semakin cepat dan dia semakin kuat mencengkeram kemaluanku.
Pada tahap berikutnya seolah dia tegang luar biasa, menjerit kecil.”Aacckhh… aahhh… cceeeepttt… shhaayyaang..!” badannya sedikit mengejang dan tiba-tiba dikulum dan dihisapnya lagi batangku yang tadi hanya dicengkeram saja.Aku semakin terhanyut iramanya, kuremas-remas payudaranya dengan kuat. Sekonyong-konyong ada rasa yang menjalar kuat pada saluran batangku. Mbak Is tanpa kuduga menggigit dengan kuat batangku yang keras itu diikuti sentakan yang cepat dan kuat pada pantatnya yang beradu dengan perut Avin dengan vagina yang masih disodok-sodok penis.
“Aakkhh..!” aku menjerit panjang dan lirih, merasa sakit dan nikmat.Ada rambatan aneh pada saluran kemaluanku. Rasanya tulang-tulangku copot dari persendian dan saraf-sarafku terasa kendor setelah ketegangan luar biasa dan lama yang kurasakan. Aku jatuh rebah telentang setelah sekian lama bertahan pada posisi duduk. Batang kemaluanku terasa memuntahkan muatannya yang dari tadi tertahan oleh ketidaktahuanku akan seks. Terasa hangat membanjiri rongga mulut Mbak Is dan langsung ditelannya. Karena saking banyaknya yang kukeluarkan dan dia sendiri habis mengalami sentakan hebat dan lemas, sampai dia terbatuk-batuk tersedak air maniku.
Mbak Is mencoba bangun, terkejut dan mau menjerit ketika dia sadar masih ada sesuatu yang menusuk-nusuk kemaluannya, sementara posisiku melintang dari tubuhnya. Avin cepat-cepat membekap mulutnya dari belakang, dan aku coba membantu Avin dengan memeluk tubuh Mbak Is. Mbak is manangis hebat, wajahnya dibenamkan ke pundakku. Aku merasa sodokan-sodokan hebat dari tubuh Mbak Is karena digenjot Avin dari belakang. Avin mengerang dengan tubuh yang sedikit gemeter.
“Aaakkhh… Iiissshh… Aaakkkhh… sshhudddaakhh… hhh..” dia mengerang dengan menancapkan habis-habis punyanya ke dalam vagina Mbak Is yang sudah basah itu.Dia rangkul pundak Mbak Is dengan penis masih menancap disana. Setelah avin melepaskan penisnya dari vagina, Mbak Is jadi lebih bebas berubah posisi duduk di pangkuanku dan memelukku erat-erat sambil menangis sejadi-jadinya. Rupanya dia sadar kalau ada orang yang selain aku yang memberinya kenikmatan, tetapi dia tidak mengerti kalau itu Avin. Kawanku dan juga muridnya di sekolah…